You are here
Home > Kegiatan Tahunan > Dharmayatra 2018: Tat Twam Asi, Filosofi Dalam Empati

Dharmayatra 2018: Tat Twam Asi, Filosofi Dalam Empati

Kecerdasan intelektual yang dimiliki manusia tidak akan berarti jika tidak diiringi dengan moral dan kecerdasan spiritual yang baik pula. Seperti kata pepatah, “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Sehingga hendaknya ada keseimbangan antara ilmu intelektual dan ilmu agama yang dipupuk dalam diri seseorang. Dengan dipupuknya ilmu agama tersebut juga secara tidak langsung akan membentuk moral karena pada dasarnya semua agama mengajarkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik dan peduli kepada sesama. Rasa kepedulian dapat diwujudkan dengan kepekaan terhadap keadaan lingkungan. Tempat ibadah merupakan tempat suci yang dapat diibaratkan sebagai jembatan antara Tuhan dengan umat-Nya, sehingga alangkah baiknya apabila sebuah tempat ibadah dibangun sedemikian rupa untuk menciptakan kenyamanan dan ketenangan agar khusyuk saat beribadah. Banyak Pura dan Vihara, (khususnya di luar Bali) yang keadaannya masih sangat sederhana dan memerlukan perbaikan untuk dapat disebut layak sebagai tempat ibadah yang ideal bagi umat beragama.
Sebagai bentuk kepedulian tersebut, Keluarga Mahasiswa Hindu dan Buddha akan melaksanakan kegiatan Dharmayatra yang juga merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan Dharmayatra ini tidak semata-mata melakukan perjalanan suci untuk beribadah, namun juga melakukan kegiatan sosial di Pura dan Vihara yang akan dikunjungi. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi para peserta maupun masyarakat sekitar Pura dan Vihara yang menerima bantuan dari KMHB PKN STAN. Kegiatan ini mengambil tema “Tat Twam Asi, Filosofi dalam Empati”.
Pelaksana Dharmayatra KMHB PKN STAN 2018 adalah mahasiswa yang tergabung dalam anggota Lembaga Keagamaan Keluarga Mahasiswa Hindu dan Buddha Politeknik Keuangan Negara STAN. Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Dharmayatra ini dibagi menjadi dua yaitu, bidang keagamaan dan kemanusiaan. Dimana dalam bidang keagamaan akan diadakan kegiatan persembahyangan, diskusi keagamaan seperti dialog dan simakrama dengan penduduk setempat untuk saling memberikan dorongan moral sebagai sesama umat Hindu dan Buddha, dan kegiatan ngayah di pura setempat. Kemudian dilanjutkan dengan bidang yang kedua yaitu kemanusiaan yang akan diisi dengan kegiatan pemberian bantuan berupa uang serta barang-barang yang menunjang keperluan persembahyangan dan diharapkan akan memberikan semangat baru dan ketenteraman hati untuk saling membantu antar mahasiswa dan masyarakat.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 25 Mei 2018 sampai dengan Minggu, 27 Mei 2018, bertempat di Semarang, Jawa Tengah. Alasan memilih Semarang sebagai tempat pelaksanaan Dharmayatra 2018 adalah karena jarak lokasi yang relatif dekat, masih di Pulau Jawa, serta banyak masyarakat di sana yang memiliki semangat dalam menjalankan kegiatan keagamaan namun tidak memiliki fasilitas pendukung dalam menjalankan kegiatannya. Alasan lainnya KMHB PKN STAN ingin mengadakan Dharmayatra ke Semarang adalah karena berdasarkan hasil survey kondisi dan situasi di Pura dan Vihara di daerah tersebut sangat membutuhkan bantuan yang mana sulit didapat dari pemerintah daerah setempat.
Dharmayatra KMHB Politeknik Keuangan Negara STAN 2018 ini akan mengunjungi tiga tempat yaitu sebagai berikut.

 

1. Pura Bhuwana Mandala dan Pura Satya Dharma

Pura Bhuwana Mandala terletak di Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah. Pura ini diamongi oleh sekitar 20 sampai 30 Kepala Keluarga. Pura ini digunakan untuk tempat persembahyangan dan juga berkumpul bagi penduduk Hindu Jawa yang menetap di daerah ini. Keadaan sekitarnya masih sepi, hanya penduduk sekitar yang bersembahyang di Pura ini walaupun terkadang terdapat pula warga dari kota yang datang untuk bersembahyang di Pura ini, tetapi sangat jarang. Banyak umat Hindu yang masih belia di sekitar Pura ini. Mereka kebanyakan masih duduk di bangku sekolah SD, SMP maupun SMA. Namun, agak susah mendapatkan pendidikan agama di sekolah, sehingga mereka harus jauh ke kota hanya untuk belajar agama atau belajar secara otodidak.

Sangat disayangkan, infrastruktur di pura ini belum memadai untuk memberikan kenyamanan bagi umat yang ingin melaksanakan persembahyangan. Dari segi infrastruktur, pura ini sangat membutuhkan bantuan bahan bangunan. Walaupun baru sekitar 8 bulan lalu dilakukan renovasi di areal Pura ini, namun masih terdapat Bale dan Pura Besar dengan kondisi bagian atapnya sudah rapuh. Hal ini dikarenakan renovasi dilakukan secara bertahap karena sangat susah untuk mengajukan bantuan ke pemerintah kota.

Pura kedua yaitu, Pura Satya Dharma. Lokasinya berdekatan dengan Pura Bhuwana Mandala, hanya terpisah beberapa meter. Pengempon dan Pemangku pura ini sama dengan Pura Bhuwana Mandala. Persembahyangan pun dilakukan secara bergiliran, saat Purnama di Pura Satya Dharma, dan ketika Tilem di Pura Bhuwana Mandala.

 

2. Pura Tirta Loka

Pura ini berada di Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Semarang, Jawa Tengah. Untuk sampai ke pura ini harus melewati gang-gang kecil. Sebelumnya jumlah umat penyungsung pura sebanyak 20 KK namun saat ini berkurang menjadi 12 KK yang mana semuanya termasuk ke dalam golongan masyarakat ekonomi menengah kebawah. Pura ini sempat mendapat bantuan untuk membangun dinding di depan pura dan meninggikannya. Setelah pembangunan, pengempon pura ingin melaksanakan ngenteg linggih namun karena keterbatasan biaya mereka terpaksa menundanya.

Kondisi pura ini lebih sederhana dan lebih sempit dibandingkan dengan pura Bhuwana Mandala. Infrastruktur di pura ini masih dikatakan kurang, Bale belum dikeramik dan sangat membutuhkan penerangan. Pemuda-pemudi pengempon pura ini sangat bersemangat dalam melaksanakan kegiatan di Pura, namun untuk mendapat pendidikan agama Hindu mereka belajar ke Pura Giri Suci di Kabupaten Semarang karena pendidikan agama Hindu berpusat di sana. Di Pura ini pun tidak terlihat buku-buku dan sarana lainnya seperti lemari untuk menyimpan peralatan pura.

 

3. Vihara Sarana Bhakti

Vihara Sarana Bhakti terletak di Dusun Dukoh, Desa Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Vihara yang berlokasi dekat dengan kantor desa Watuagung ini disokong umat Buddha sebanyak 30 Kepala Keluarga atau sekitar 60 sampai 70 orang. Saat ini, di Vihara sedang melakukan renovasi Altar yang mana membutuhkan sumbangan dana.

Setiap minggu di Vihara Sarana Bakti dilaksanakan sekolah Minggu yang diikuti oleh sekitar 20 orang siswa. Para siswa ini tetap semangat belajar walau dalam keterbatasan fasilitas. Tempat belajar mereka tidak dilengkapi dengan papan tulis dan alat-alat lainnya, meja-meja yang digunakan sudah banyak yang rusak dan buku-buku pendidikan yang kurang memadai.

Dalam kegiatan Dharmayatra ini, Keluarga Mahasiswa Hindu dan Buddha PKN STAN menyalurkan bantuan berupa donasi ke ketiga tempat tersebut. Semoga segala bantuan yang kita semua berikan dapat bermanfaat bagi semuanya.
Sampai jumpa di Dharmayatra 2019!

Leave a Reply

Top