You are here
Home > Artikel Keagamaan > Saniscara Umanis Watugunung, hari turunnya ilmu pengetahuan

Saniscara Umanis Watugunung, hari turunnya ilmu pengetahuan

SETIAP hari Sabtu (Saniscara) Umanis (Legi) Watugunung, menurut perhitungan sistem kalender pawukon Bali, diperingati sebagai hari raya Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan suci. Datangnya perayaan ini secara periodik setiap 210 hari sekali, dan di bulan April ini jatuh pada tanggal 23. Sebagai wujud rasa bhakti (pelayanan yang suci), pemujaan terhadap Sumber Segala Ilmu Pengetahuan material maupun spiritual tersebut, diwujudkan atau digambarkan dalam alam pikiran melalui personifikasi Dewi Sarasvati. Ada tujuh makna simbolis yang terkandung dari perwujudan dewi yang anggun nan cantik, dengan busana putih bersih, memainkan alat musik (wina/sejenis gitar), memegang kitab pustaka (kropak), aksamala (genitri/tasbih), bunga teratai (kumbaja), didampingi wahana berupa burung merak dan angsa putih (swan).

TUHAN Yang Mahaesa, dalam Personifikasi-Nya sebagai Dewi Sarasvati, menganugerahkan pengetahuan dan kebahagiaan. Penuh keutamaan dan menjadikan segala sesuatu itu ada…

  1. Penampilan dewi yang cantik dengan busana putih bersih berkilauan, melambangkan ilmu pengetahuuan itu sangat mulia, selalu menarik untuk dipelajari oleh siapapun.
  2. Alat musik gitar (wina) melambangkan unsur mutlak ilmu pengetahuan berasal dari hukum alam yang tercipta melalui melodi alami dan citarasa seni Sang Pencipta.
  3. Kitab suci (kropak) melambangkan tempat tertuangnya berbagai petunjuk ajaran suci sebagai sumber ilmu pengetahuan material maupun spiritual.
  4. Genitri (aksamala/tasbih) melambangkan ilmu pengetahuan bersifat kekal, tidak terbatas, tidak akan ada akhirnya dan habis-habisnya untuk dipelajari.
  5. Bunga Teratai, melambangkan kesucian ilmu pengetahuan yang murni, tidak tercela
  6. Burung Merak, melambangkan sifat ilmu pengetahuan itu memberikan suatu kewibawaan bagi yang telah memahami dan menguasainya
  7. Angsa putih, melambangkan ilmu pengetahuan itu dapat memberikan petunjuk untuk bersikap bijaksana dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Simbol perwujudan Dewi Sarasvati yang cantik nan anggun, berlengan empat dengan bermacam atribut yang dipegang-Nya, mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Mahaesa adalah satu sumber kebenaran mutlak dari segala jenis ilmu pengetahuan, dan sumber wahyu suci yang terhimpun dalam berbagai kitab suci. Berbagai gambaran simbolis tersebut memiliki nilai yang tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat mendalam.

MAKNA PEMUJAAN KEPADA DEWI SARASWATI.

Pada masyarakat awam bertanya apa maksud menyembah dewa-dewa atau dewi-dewi melalui simbol-simbol atau patung, gambar dan sebagai-nya? Padahal Tuhan hanya satu, kenapa ada ba-nyak dewa atau dewi?

Dewa berasal dari kata”div” yaitu sinar/pan-caran. Pengertiannya adalah bahwa Tuhan itu adalah satu, tapi mempunyai aspek-aspek de-ngan pancaran sinar-Nya (Nur Illahi) yang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. ang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. Pada saat menciptakan disebut Brahma, saat memelihara disebut Wishnu, dan saat pendaurulang disebut Shiwa, dan sebagainya. Tapi sebenarnya Brahma, Wishnu, Shiva adalah satu (Trimurti).

Para dewa ini mempunyai pendamping (Shak-ti), yaitu: Brahma shakti-Nya Saraswati, Wishnu shakti-Nya Lakshmi dan Shiwa shakti-Nya Parvati (Durga). Disini Dewi Saraswati sebagai aspek Tuhan Yang Maha Esa pada saat menganugrah-kan/munurunkan ilmu pengetahuan (vidya), ke-cerdasan, ucapan, musik, budaya dan seba-gainya. Demikian pula dijabarkan dalam konsep Gayatri yang terdiri dari tiga aspek, yaitu: Saras-wati menguasai ucapan/tutur kata, Gayatri me-nguasai intelek/budhi dan savitri yang menguasai prana/nafas.

Jadi makna pemujaan Dewi Saraswati adalah memuja dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memfokuskan pada aspek Dewi Sa-raswati (simbol vidya) atas karunia ilmu penge-tahuan yang di karuniakan kepada kita semua, sehingga akan terbebas dan avidyam (kebodoh-an), agar dibimbing menuju ke kedamaian yang abadi dan pencerahan sempurna.

MAKNA PENGAMBARAN DEWA-DEWI DALAM SIMBOL-SIMBOL TERTENTU.

Tuhan Maha Esa tidak bisa digambarkan, tapi mengapa orang meuggambarkan dengan simbol-simbol tertentu, misalnya arca, gambar, dan lain-lain? Bagaimana bentuk Tuhan? Apakah Tuhan itu Arca? Misalnya, seperti Negara Kesatuan Rl kenapa disimbolkan sebagai bendera merah putih? Apakah Indonesia itu berwujud selembar kain bendera? Kenapa kita menghormati ben-dera? Sebagai contoh lagi, seseorang yang se-dang jatuh cinta pada kekasihnya yang berada jauh dan dia. Setiap malam dia memeluk foto, ban-tal atau guling dan membayangkannya sebagai kekesihnya, sambil berkata: ‘aku sayang, rindu, dan cinta kamu’. Padahal bukan benda-benda itu yang di cintai, tapi adalah kekasihnya yang berada jauh darinya. Untuk membayangkannya dia meng-gunakan benda-benda itu sebagai sarana untuk memfokuskan kerinduannya pada kekasihnya. Apakah dia mencintai bantal, guling, foto dan se-bagainya? Mengapa demikian?

Disini jawabannya ada dalam konsep “Sat Guna Brahman dan Nir Guna Brahman”. ‘Sat’ berarti: ada/kebenaran/hakiki/yangsesungguhnya. ‘Nir’ berarti: kosong/tidak ada/nol.’ Guna’ berarti: sifat, ‘Brahman’ berarti Tuhan. Satguna Brahman yaitu Tuhan adalah ada dan berwujud. Seluruh semesta ini adalah personifikasi dan Tuhan. Nirguna Brahman adalah Tuhan yang tidak bisa digambarkan atau gaib.

Jadi walaupun Tuhan itu Gaib tapi ada, dan ma-nusia karena kemampuannya terbatas dalam mengkonsentrsi kepada Tuhan, sering menggunakan simbol sebagai sarananya. Bukan arca, ka’bah, salib, linggayoni, padmasana, dan sebagainya yang disembah, itu semua tapi hanya sebagai alat memusatkan konsentrasi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang hanya berhak di-sembah.

Demikian pula dengan Dewi Saraswati menga-pa kita memuja-Nya? Karena Dewi Saraswati adalah perwujudan philosofi weda, simbol dan vidya / ilmu pengetahuan, dan menguasai ucapan setiap orang. Kita semua mempunyai pengetahu-an, jiwa seni, intelek, perkataan/ucapan dan lain-lain. Jadi sadar tidak sadar, mau tidak mau, Dewi Saraswati selalu hadir dalam ucapan/perkataan dan pikiran kita semua tanpa membedakan ras, ethnic, agama dan kebangsaan.

MAKNA DARI PERAYAAN DEWI SARASWATI.

Dan perayaan ini kita dapat mengambil hik-mahnya, antara lain:

1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua.

2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebe-naran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi.

3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidak-benaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk melek/eling/bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.

4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.

5. Kita masih memerlukan/mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan peng-hayatan dan bakti yang tulus.

6.Laksanakan Puja/sembahyang sesuai de-ngan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus/ihlas, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain.

Awali dengan Ganesh Mantra, 0m nama saraswati mata ya namah, Tri sandia, Gayatri Saraswati, Mantra Asatoma, Mantra Shanti Universal (Loka samasta sukino bhavantu). Bila dilaksanakan agnihotra (homa yajna) baca 108 Saraswati Nawamali dan ditutup dengan Aarati Sarasvati. Dalam puja ini dianjurkan banyak mem-baca Gayatri Mantra (bait pertama Tri sandia) secara berulang-ulang.

Demikianlah semoga vidya akan membawa kita ke perdamaian secara universal, damai di bumi, damai di langit, damai di surga, (damai semua loka).

0m shanti shanti shanti om

Leave a Reply

Top