You are here
Home > Uncategorized > Tak Pernah Ada Kematian

Tak Pernah Ada Kematian

YANG HIDUP, AKAN SELALU HIDUP;

YANG TAK HIDUP, TIDAK AKAN PERNAH HIDUP

KARENANYA TAK PERNAH ADA KEMATIAN

Menurut Anda apakah makna dari kalimat di atas ???

Apa (atau siapa) yang hidup dan apa (atau siapa) yang mati ???

Pernahkah Anda merenungkan apa sebenarnya yang terjadi setelah kita mati ???

Apakah ada kehidupan setelah kematian ??? atau,

Apakah kematian itu benar-benar ada ???

Dalam Bhagavadgita ada beberapa sloka yang membahas tentang masalah ini , diantaranya :

1. Na tv evaham jatu nasam

na tvam neme janadhipah

na caiva na bhavisyamah

sarve vayam atah param (Bh.G.II.12)

Baik Aku, Engkau dan para pemimpin ini tak pernah tidak ada sebelumnya, ataupun akan berhenti adanya, sekalipun sesudah mati.

Badan atau raga kita akan selalu hidup dan mati sesuai dengan masa pakainya, tetapi Inti-Jiwa (Atman) akan selalu mengembara dari satu raga ke raga yang lainnya, tanpa henti sesuai dengan karmanya.  Seseorang sebenarnya tidak pernah mati, yang mati adalah raganya, suatu permukaan kasar yang merupakan medium belaka. Raga selalu menikmati semua kesenangan dan juga merasakan penderitaan yang diakibatkan oleh kesenangan itu, tetapi Atman akan jalan terus tanpa terkontaminasi sedikitpun.

2. Nasato vidyate bhavo

nabhavo vidyate satah,

ubhayor api drsto ntas

tv anayos tattva-darsibhih ( Bh.G.II.16 )

Apa yang tidak ada, tak akan pernah ada (dan) apa yang ada tak akan berhenti ada, kesimpulannya keduanya telah dapat dimengerti oleh para pengamat kebenaran.

Yang tidak sejati tidak mempunyai bentuk, Yang Sejati tak pernah ada habis-habisnya. Kebenaran kedua hal ini telah dirasakan oleh para pencari Kebenaran.
Yang sejati di sini adalah Atman (Inti Jiwa Kita), yang tidak sejati adalah raga kita yang selalu habis dan binasa, sedangkan Atman terus berkelana tanpa ada batas-batasnya. Raga kita berbentuk asat: tidak abadi, dapat rusak atau mati dimakan waktu atau keadaan. Sedangkan Atman adalah sat: Kesejatian yang Abadi, dalam Sat selalu tercipta yang baru, tanpa henti-hentinya, terus-menerus, abadi dan langgeng. Bukankah Itu sama saja dengan Yang Maha Pencipta.

Seorang penyair Barat yang terkenal di dunia pernah menulis:
Yang Satu Abadi, yang banyak berganti dan berlalu,
Cahaya Ilahi bersinar tanpa habis, bayangan bumi hilang berterbangan.
Hidup, bagaikan sebuah rumah kaca yang memantulkan pelangi berwarna- warni,
Sebenarnya bersumber pada warna putih yang abadi. (Percy Bysshe Shelley)

3. Antavanta ime deha

nityasyoktah sarininah

anasino prameyasya

tasmad yudhyasva bharata (Bh.G.II.18)

Sesungguhnya, raga dari jiwa yang langgeng, tak terhancurkan dan tak terbatas ini, juga akan berakhir, karena itu bertempurlah, wahai Arjuna.

Sloka ini menjelaskan tentang hakekat purusa yang bersifat kekal , dan prakrti yang mempunyai akhir. Sang Jiwa yang memberikan kehidupan kepada raga (badan) kita, tak akan pernah binasa karena merupakan percikan kecil dari Brahman. Sedangkan raga kita akan rusak dan hancur sehingga harus diganti dengan raga lain.

4. Na jayate mriyate va kadacin

nayam bhutva bhavita va na bhuyah

ajo nityah sasvato yam purano

na hayate hanyamane sarire (Bh.G.II.20)

Ini tak pernah lahir, juga tak pernah mati atau setelah ada tak akan berhenti ada. Ia tak terlahirkan, kekal, abadi, sejak dahulu ada; dan Dia tidak mati pada saat badan jasmani ini mati.

Tak ada seseorangpun yang pernah dilahirkan atau pun suatu saat nanti harus mati. Tak ada seorangpun sebenarnya yang hilang atau terhenti proses hidupnya (eksistensinya). Atman tak pernah dilahirkan, bersifat konstan, abadi dan telah ada semenjak masa yang amat silam. Ia tak pernah mati walau raga habis terbunuh.

5. Vasamsi jirnani yatha vihaya

navani grihnait naro parani

tahta sarirani vihaya jirnany

anyani samyati navani dehi (Bh.G.II.22)

Ibarat orang yang menanggalkan pakaian lama dan menggantikannya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani yang baru.

Pada sloka ini kematian diibaratkan sebagai orang berganti pakaian. Orang (purusa/jiwatman) itu tetap hidup dan pakaian (badan/raga) yang tadinya dipakai tidak tidak berfungsi karena rusak. Jiwatman yang terbelenggu berpindah dari satu badan ke badan yang lain. Setiap kelahirannya membawa badan, hidup dan pikiran yang terbentuk dari pada prakerti menurut evolusinya dimasa yang lalu dan kebutuhannya dimasa yang akan datang. Apabila badan jasmani yang menjadi tua dan hancur, maka alam pikiran sebagai pembalut jiwa memaksa jiwa untuk berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain yang disebut reinkarnasi atau phunarbhawa sesuai dengan karmaphalanya (hasil perbuatannya di dunia). Karena itu Atman tidak akan selalu dapat kembali kepada asalnya yaitu ke Paramaatman. Orang-orang yang berbuat baik di dunia akan menuju sorga dan yang berbuat buruk akan jatuh ke Neraka. Di Neraka Jiwatman itu mendapat siksaan sesuai dengan hasil perbuatannya. Karena itulah penjelmaan terus berlanjut sampai Jiwatman sadar akan hakekat dirinya sebagai Atman, terlepas dari pengaruh awidya dan mencapai Moksa yaitu kebahagiaan dan kedamaian yang abadi serta kembali bersatu kepada asalnya.

Apabila kita renungkan lebih dalam mengenai kematian, maka semakin kita sadari bahwa sesungguhnya tak ada kematian seperti yang selalu kita bayangkan. Kita beranggapan bahwa seorang mengalami kematian ketika seseorang tidak lagi bernyawa, saat dimana jantung berhenti berdetak, darah berhenti mengalir, paru-paru berheni bernapas dan otak berhenti bekerja. Apakah itu benar-benar dapat disebut sebuah kematian ?

Siapa yang mati? Siapa yang pernah hidup? Tubuh fisik kita sejak awal tersusun oleh benda-benda tak hidup. Tersusun oleh atom-atom dan molekul-molekul, mineral-mineral, baik dari unsur kimiawi logam maupun non logam, padat, cair dan gas. Udara yang kita hirup terdiri dari unsur atom oksigen, karbon dan atom lainnya. Air yang kita minum berasal dari ikatan unsur oksigen dan hidrogen. Tulang kita tersusun dari unsur kalsium, fosfor dan unsur lainnya. Sel-sel darah merah kita mengandung besi sehingga dapat mengikat oksigen dari paru-paru. Demikian pula sel-sel serta organ-organ lain dalam diri kita, semua tersusun dari benda tak hidup. Sejak awal sampai akhir unsur-unsur itu tetap saja menjadi unsur tak hidup. Jika unsur-unsur itu tak pernah menjadi hidup, bagaimana bisa dikatakan mengalami kematian.

Lalu apa yang hidup?

Diri sejati kitalah yang hidup. Tanpa ada Diri Sejati dalam tubuh manusia, binatang atau makhluk hidup lainnya, tidak akan ada kehidupan. Sebab kehidupan adalah penyatuan antara yang hidup dan yang tak hidup. Karena yang hidup sesungguhnya hanyalah Sang Diri Sejati yang tak akan pernah mati.

Jadi apakah yang selama ini kita anggap sebagai kematian ?

Apa yang selama ini kita istilahkan ” mati ”, lebih tepat disebut tak hidup. Karena memang tidak ada yang mati. Unsur yang hidup akan selalu hidup (Diri Sejati), yang tak hidup akan selalu tak hidup (tubuh kita). Yang terjadi hanyalah pemisahan antara unsur hidup dan tak hidup, yang sebelumnya mengalami penyatuan. Tidak ada yang benar-benar dapat disebut ” mati”.

Lalu mengapa kita sering kali mengalami ketakutan akan kematian ?

Bukankah sebenarnya kita (atman) tidak akan pernah mati ?

Hal ini semata-mata disebabkan oleh ketidaktahuan (avidya) dalam diri kita. Yang perlu kita pikirkan bukanlah ketakutan itu sendiri tetapi bagaimana menghadapi rasa takut itu.

Bagaimana kita mengisi kehidupan sebagai manusia, yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita….

Bagaimana kita dapat melampaui kematian itu sendiri…

Yang biasa kita kenal sebagai…

Mati dalam hidup dan hidup dalam kematian….

Ingatlah kehidupan itu sangat singkat….

Suksma…….

Oleh: I Gusti Agung Yuliari (KPP Madya Jakarta Pusat), dibawakan pada acara Pesantian Pajak

Leave a Reply

Top